Selasa, 19 April 2011

Senin, 15 Maret 2010

Akibat Tidak Sholat

Assalamu'alaikum Wr. Wb. ...

Berikut ini merupakan sebuah kisah yang didapat dari rekan saya, insya Allah bermanfaat dan bisa kita jadikan ibrah (pelajaran).Kisah ini diceritakan oleh seorang ustaz yang bertugas memandikan mayat orang Islam di hospital.
Lebih kurang jam 3.30 pagi, saya menerima panggilan dari Hospital
Tengku
Ampuan Rahimah, Klang, Selangor untuk menguruskan jenazah lelaki yang
sudah seminggu tidak dituntut. Di luar bilik mayat itu cukup
dingin dan
gelap serta sunyi dan hening. Hanya saya dan seorang penjaga bilik
tersebut yang berada dalam bilik berkenaan. Saya membuka dengan
hati-hati
penutup muka jenazah.
Kulitnya putih,badannya kecil dan berusia awal 20-an. Allah Maha
Berkuasa. Tiba-tiba saya lihat muka jenazah itu sedikit demi sedikit
bertukar menjadi hitam. Mulanya saya tidak menganggap ia sebagai
aneh,
namun apabila semakin lama semakin hitam, hati saya mulai
bertanya-tanya.
Saya terus menatap perubahan itu dengan teliti, sambil di hati tidak
berhenti-henti membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Detik demi detik
berlalu,wajah jenazah semakin hitam. Selepas lima minit berlalu,
barulah
ia berhenti bertukar warna. Ketika itu wajah mayat berkenaan
tidak lagi
putih seperti warna asalnya, tetapi hitam seperti terbakar. Saya
keluar
dari bilik berkenaan dan duduk termenung memikirkan kejadian aneh
yang
berlaku itu. Pelbagai pertanyaan timbul di kepala saya; apakah yang
sebenarnya telah terjadi? Siapakah pemuda itu? Mengapa wajahnya
bertukar
hitam?
Persoalan demi persoalan muncul di fikiran saya. Sedang saya
termenung
tiba-tiba saya dapati ada seorang wanita berjalan menuju ke arah
saya.
Satu lagi pertanyaan timbul, siapa pula wanita ini yang berjalan
seorang
diri di bilik mayat pada pukul 4.00 pagi? Semakin lama dia semakin
hampir,
dan tidak lama kemudian berdiri di hadapan saya. Dia berusia 60-an
dan
memakai baju kurung.
"Ustaz," kata wanita itu. "Saya dengar anak saya meninggal dunia dan
sudah
seminggu mayatnya tidak dituntut. Jadi saya nak tengok
jenazahnya." kata
wanita berkenaan dengan lembut. Walaupun hati saya ada sedikit tanda
tanya, namun saya membawa juga wanita itu ke tempat jenazah
tersebut. Saya
tarik laci 313 dan buka kain penutup wajahnya. "Betulkah ini mayat
anak
mak cik?" tanya saya. "Mak cik rasa betul... tapi kulitnya
putih." "Mak
cik lihatlah betul-betul." kata saya. Selepas ditelitinya jenazah
berkenaan, wanita itu begitu yakin yang mayat itu adalah anaknya.
Saya tutup kembali kain penutup mayat dan menolak kembali lacinya ke
dalam
dan membawa wanita itu keluar dari bilik mayat. Tiba di luar saya
bertanya
kepadanya. "Mak cik, ceritakanlah kepada saya apa sebenarnya yang
berlaku
sampai wajah anak mak cik bertukar jadi hitam?" tanya saya. Wanita
itu
tidak mahu menjawab sebaliknya menangis teresak-esak. Saya ulangi
pertanyaan tetapi ia masih enggan menjawab. Dia seperti
menyembunyikan
sesuatu. "Baiklah, kalau mak cik tidak mahu beritahu, saya tak mahu
uruskan jenazah anak mak cik ini. " kata saya untuk menggertaknya.
Bila saya berkata demikian, barulah wanita itu membuka mulutnya.
Sambil
mengesat airmata, dia berkata, "Ustaz, anak saya ni memang baik,
patuh dan
taat kepada saya. Jika dikejutkan di waktu malam atau pagi supaya
buat
sesuatu kerja, dia akan bangun dan buat kerja itu tanpa membantah
sepatah
pun. Dia memang anak yang baik.
Tapi..." tambah wanita itu lagi "apabila mak cik kejutkan dia untuk
bangun
sembahyang, Subuh misalnya, dia mengamuk marahkan mak cik.
Kejutlah dia,
suruhlah dia pergi ke kedai, dalam hujan lebat pun dia akan pergi,
tapi
kalau dikejutkan supaya bangun sembahyang, anak mak cik ini akan
terus
naik angin. Itulah yang mak cik kesalkan." kata wanita tersebut.
Jawapannya itu memeranjatkan saya. Teringat saya kepada hadis nabi
bahwa
barang siapa yang tidak sembahyang, maka akan ditarik cahaya iman
dari
wajahnya. Mungkin itulah yang berlaku. Wajah pemuda itu bukan sahaja
ditarik cahaya keimanannya, malah diaibkan dengan warna yang hitam.
Selepas menceritakan perangai anaknya, wanita tersebut meminta diri
untuk
pulang. Dia berjalan dengan pantas dan hilang dalam persekitaran yang
gelap. Kemudian saya pun memandikan, mengapankan dan
menyembahyangkannya.
Selesai urusan itu, saya kembali ke rumah semula. Saya perlu balik
secepat mungkin kerana perlu bertugas keesokan harinya sebagai
imam di
Masjid Sultan Sallehuddin Abdul Aziz Shah, Shah Alam. Selang dua
tiga hari
kemudian, entah kenapa hati saya begitu tergerak untuk menghubungi
waris
mayat pemuda tersebut. Melalui nombor telefon yang diberikan oleh
Hospital
Tengku Ampuan Rahimah, saya hubungi saudara Allahyarham yang agak
jauh
pertalian persaudaraannya. Selepas memperkenalkan diri, saya
berkata,
"Encik, kenapa encik biarkan orang tua itu datang ke hospital
seorang diri
di pagi-pagi hari.Rasanya lebih elok kalau encik dan keluarga
encik yang
datang sebab encik tinggal di Kuala Lumpur lebih dekat dengan Klang."
Pertanyaan saya itu menyebabkan dia terkejut, "Orang tua mana pula?"
katanya. Saya ceritakan tentang wanita berkenaan, tentang bentuk
badannya,
wajahnya, pertuturannya serta pakaiannya. "Kalau wanita itu yang
ustaz
katakan, perempuan itu adalah emaknya, tapi.... emaknya dah
meninggal lima
tahun lalu!" Saya terpaku, tidak tahu apa yang hendak dikatakan lagi.
Jadi 'apakah' yang datang menemui saya pagi itu? Walau siapa pun
wanita
itu dalam erti kata sebenarnya, saya yakin ia adalah 'sesuatu' yang
Allah
turunkan untuk memberitahu kita apa yang sebenarnya telah berlaku
hingga
menyebabkan wajah pemuda berkenaan bertukar hitam.
Peristiwa tersebut telah terjadi lebih setahun lalu, tapi masih segar
dalam ingatan saya. Ia mengingatkan saya kepada sebuah hadis nabi,
yang
bermaksud bahawa jika seseorang itu meninggalkan sembahyang satu
waktu
dengan sengaja, dia akan ditempatkan di neraka selama 80,000 tahun.
Bayangkanlah seksaan yang akan dilalui kerana satu
hari di akhirat bersamaan dengan seribu tahun di
dunia. Kalau 80,000 tahun ?

Wallahu'alam ...

Bila di dunia ada syurga,
maka itulah kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Bila di dunia ada neraka,
maka itulah kehidupan rumah tangga yang tak selaras & jauh dari
agama.

Bahagialah mereka yang diamnya berfikir,
Memandangnya mengambil pelajaran,
mendengarnya mengambil hikmah, dan
dalam tindakannya mengenal indahnya ajaran Islam.


Beribadah Karena keSyukuran

Menghadapi situasi krisis seperti saat ini, tidak sedikit orang yang justru tersadar, kemudian kembali ke jalan agama. Mereka yang selama ini tidak pernah menginjakkan kakinya di masjid, tiba-tiba rajin melaksanakan shalat. Mereka baru mengerti bahwa ada kekuatan di luar dirinya yang membolak-balikkan suasana semau-Nya.

Sebaliknya, ada sebagian orang yang justru frustrasi kemudian lari dari agama. Bahkan yang biasanya rajin melaksanakan berbagai amalan ibadah, tiba-tiba malas-malasan. Sedikit demi sedikit beberapa amalan ditinggalkan hingga suatu ketika semua amal ibadah telah terlupakan. Mereka merasa seluruh amal ibadahnya sia-sia, sebab tidak memperoleh apa-apa kecuali kebangkrutan usaha.

Jika kita datangi tempat-tempat maksiat, satu atau beberapa di antara pelakunya mungkin mantan santri. Ada-ada saja orang yang asalnya baik menjadi jahat. Orang shaleh menjadi thaleh.

Sebaliknya jika ke masjid, kita dapati beberapa di antara mereka mantan-mantan ahli maksiat. Berbagai macam pengalaman telah mengantarkan mereka sampai ke jalan Tuhan. Ada yang karena dililit utang, ada yang telah sampai pada puncak kemaksiatan. Motif beragama memang beragam, meskipun dalam praktek ibadahnya harus seragam. Keberagaman itu bisa dibuktikan hanya dengan bertanya kepada orang yang habis melaksanakan shalat tentang maksud dan tujuan ibadahnya. Ternyata jawabannya tidak sama.

Ali Bin Abi Thalib karramallahu wajhah membagi amalan ibadah kaum muslimin ke dalam tiga katagori. Pertama, golongan orang yang beribadah karena mengharapkan sesuatu dari Allah swt. Ia beribadah karena pamrih. Golongan itu dikatagorikan sebagai ibadatut-tujjaar, ibadahnya pedagang. Dalam prinsip ekonomi, seseorang melakukan usaha dimaksudkan untuk mendapatkan untung. Jika perlu dengan pengorbanan yang sedikit mendapatkan hasil yang banyak. Demikian pula dalam hal ibadah, mereka pilih-pilih di antara ibadah yang paling banyak mendatangkan keuntungan.

Itulah sebabnya mereka tampak sibuk menghitung-hitung amalan ibadahnya. Dibawanya tasbih ke mana-mana, diputar sambil komat-kamit hingga berhenti sampai hitungan tertentu. Ketika ditanya kenapa berhenti berdzikir, ia menjawab, berdasarkan hitungan ia telah membaca seribu kali. Jika sekali membaca diberi ganjaran sepuluh, maka ia telah mendapatkan pahala sebanyak sepuluh ribu. Suatu keuntungan yang bisa ditabung untuk hari itu.

Ibadah macam ini bukannya tidak diperbolehkan, tapi nilainya amat rendah. Allah sendiri dalam berbagai ayat-Nya telah memotivasi ummat Islam agar gemar melaksanakan ibadah dengan iming-iming pahala yang banyak. Di antaranya adalah surga. Beribadah dengan mengharapkan surga itu hal yang lumrah. Salah satu contohnya Allah berfirman:
"Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shaleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" (QS an-Nisaa: 122)

Iming-iming surga itulah yang diberikan Allah untuk mendorong semangat hamba-Nya. Sementara janji Allah pasti akan ditepati-Nya. Masalahnya kemudian adalah bahwa pahala itu tidak langsung diterima pada saat seseorang melakukan suatu amalan ibadah, melainkan disimpan untuk kehidupan di akhirat. Penundaan ini menjadikan banyak orang tidak sabar. Maunya cepat menikmati. Karenanya kemudian banyak orang jadi enggan atau bermalas-malasan melakukan ibadah. Mereka merasa bahwa pahala itu kurang riil, tidak cash, dan waktu pengambilannya teralu lama.

Golongan ibadatut-tujjar ini tampak kurang konsisten dalam beribadah. Ada pasang surut sesuai dengan kondisi kantungnya. Jika kantongnya tebal, ia rajin shalat dan ibadah lainnya. Tapi jika kantongnya lagi kosong, iapun tak segan meninggalkannya.

Kategori kedua dari orang yang beribadah adalah mereka yang menjalankan rangkaian ibadah karena takut siksa Allah. Karenanya mereka dikelompokkan Ali ra sebagai 'ibadatul-'abid (ibadahnya seorang budak). Seorang budak mempunyai mental yang khas, yaitu ia baru bekerja atau melakukan sesuatu jika disuruh dan disertai ancaman. Ia merasa bahwa hasil dari amalannya itu bukan untuk dirinya.

Seorang budak baru mau bekerja jika ada "upah". Jika upahnya besar, ia rajin. Sebaliknya jika upahnya biasa-biasa saja, ia cenderung bermalas-malasan. Bagi budak seperti ini kecenderungannya memilih yang wajib-wajib saja, sedangkan yang sunnah dikurangi.

Lagi-lagi ibadah seperti seorang budak tidak menjadi soal, boleh-boleh saja. Asal ibadahnya ikhlas semata-mata karena Allah, pasti diterima. Jika ia minta balasan surga, Allah akan memberinya. Jika ia ingin lepas dari siksa neraka, Allah juga mengabulkannya. Beribadah seperti pedagang atau seperti seorang budak bagi Allah tidak jadi soal. Yang dipersoalkan-Nya adalah niat yang ikhlas lillahi ta'ala. Sedikit saja ada noda yang mengotori niat ini, ibadahnya akan menjadi cacat. Bisa jadi tidak diterima.

Dari dua katagori di atas, ada sekelompok orang yang beribadah bukan karena menginginkan surga atau pahala, juga bukan karena takut ancaman Allah berupa siksa nereka. Kelompok ini beribadah kepada Allah semata-mata karena rasa syukurnya. Jika kepada mereka ditanyakan, seandainya tidak ada surga dan neraka, apakah tetap akan beribadah, dengan suara mantap mereka akan menjawab: Ya, saya akan tetap beribadah.

Jika dikejar dengan pertanyaan apa gunanya, orang tersebut tentu akan balik bertanya, 'Bukankah saya patut bersyukur telah dijadikan Allah sebagai manusia, makhluq yang paling mulia? Bukankah pantas bagi saya bersyukur kepada Allah yang telah memberi saya akal dan fikiran yang sehat? Bukankah wajar bagi saya bersyukur kepada Allah yang telah memberi hidayah sehingga saya menjadi seorang mukmin?'

Andaikata kita bersabar menunggu orang tersebut berbicara, tentu ia akan melanjutkan, 'Seandainya Allah memerintahkan saya beribadah sehari penuh, tentu saya akan melaksanakannya. Jangankan shalat yang hanya lima kali sehari, jangankan puasa yang hanya sebulan dalam setahun, jangankan zakat yang hanya mengeluarkan sebagian kecil dari harta yang telah diberikan Allah, jangankan haji yang wajib sekali seumur hidup. Andaikata semua umur harus dihabis untuk beribadah, tentu akan saya jalani.'

Suatu malam 'Aisyah melihat suaminya, Rasulullah saw sedang asyik menjalankan shalat malam. Lama sekali beliau berdiri, ruku' dan sujud. Manakala beliau berdo'a bergemuruh dari dalam dadanya, bergetar seluruh badannya, dan tumpah seluruh air matanya. Malam itu Rasulullah benar-benar tenggelam dalam munajat kepada Allah swt. Melihat hal itu 'Aisyah merasa iba, kemudian bertanya, 'Wahai, bukankah Anda seorang Rasul, kekasih Allah? Bukankah Anda seorang yang ma'shum, yang dihindarkan dari berbuat salah dan dosa? Bukankah Anda seorang yang segala doanya dikabulkan oleh Allah? Jika demikian, kenapa Anda bersusah-payah berdiri di malam hari sampai kakinya bengkak, menangis hingga matanya sembab? Rasulullah hanya menjawab pendek, 'Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?'
Kualitas ibadah yang dijalani seseorang yang didorong oleh rasa syukurnya tentu sangat berbeda dengan kualitas ibadahnya bisnismen atau budak. Jika pebisnis beribadah sangat tergantung pada tebal tipisnya kantong, maka ibadahnya orang yang bersyukur tidak kenal situasi. Dalam segala kondisi, baik sedang sedih atau gembira, susah atau mudah, ia tetap menjalankan ibadah.

Mutu ibadahnya seorang budak sangat tergantung pada besar kecilnya upah, berat ringannya ancaman siksa, tapi bagi seorang yang beribadah didorong oleh manifestasi syukurnya, hal itu tidak menjadi masalah. Tanpa upah sedikitpun, ia tetap beribadah. Bahkan andaikata ia ditetapkan masuk neraka, ia tetap beribadah.

Seorang sufi besar pernah menyampaikan doanya kepada Allah swt. Ia mohon agar ditempatkan di neraka, kemudian tubuhnya dibesarkan sampai memenuhi seluruh isi neraka. Dengan begitu, katanya semua orang bebas dari siksa neraka.

Mungkin kita berkata, sufi itu aneh-aneh saja. Akan tetapi jika kita renungi artinya sungguh luar biasa. Ia rela berkorban demi kebahagiaan ummat manusia.
Sufi yang lain pernah bermunajat kepada Rabb-nya. Ia berkata, 'Ya Allah, sekiranya Engkau masukkan aku ke dalam nerakamu itu tidak masalah asal ridha-Mu tetap menyertaiku.'

Bagi orang yang sudah pada tingkatan ini, permintaannya hanya satu, ridha Allah semata-mata. Tentang akan ditempatkan di mana, surga atau neraka itu tidak menjadi soal. Bukankah ia juga yakin bahwa Allah itu Maha Kasih dan Sayang. Tentu Allah tidak akan menempatkan kekasih yang diridhai-Nya di tempat yang menyengsarakannya. Mereka akan dikumpulkan bersama orang-orang yang diridhai di dalam satu tempat yang diridhai, yaitu surga. Kepada mereka, Allah berseru:
"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS al-Fajr: 27-30)










A LETTER FROM GOD


Saat kau bangun dipagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadaKu, walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapatKu atau bersyukur kepadaKu atas sesuatu hal indah yang terjadi didalam hidupmu
kemarin, tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.

Aku kembali menanti. Saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk.

Di satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau ingin berbicara kepadaKu tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru.

Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.

Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang kesekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara kepadaKu dengan lembut sebelum mereka makan, tetapi engkau tidak melakukannya.

Tidak apa-apa. Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku berharap engkau akan berbicara kepadaKu, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan. Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan, engkau menyalakan televisi, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak, hanya saja engkau selalu kesana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya, tanpa
memikirkan apapun hanya menikmati acara yang ditampilkan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKu. Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tak lama kemudian. Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu.

Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkanmu bagaimana bersabar terhadap orang lain.Aku sangat mengasihimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa atau pikiran atau
syukur dari hatimu.

Baiklah... engkau bangun kembali dan kembali Aku akan menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiKu sedikit waktu. Semoga harimu menyenangkan. Yang selalu menyertaimu setiap saat, ALLAH
SWT.

24 SELINGAN DALAM HIDUP

1. JANGAN TERTARIK KEPADA SESEORANG KARENA PARASNYA, SEBAB KEELOKAN PARAS DAPAT MENYESATKAN. JANGAN PULA TERTARIK KEPADA KEKAYAANNYA, KARENA KEKAYAAN DAPAT MUSNAH. TERTARIKLAH KEPADA SESEORANG YANG DAPAT MEMBUATMU TERSENYUM, KARENA HANYA SENYUM YANG DAPAT MEMBUAT HARI-HARI YANG GELAP MENJADI CERAH. SEMOGA KAMU MENEMUKAN ORANG SEPERTI ITU.

2. ADA SAAT-SAAT DALAM HIDUP KETIKA KAMU SANGAT
MERINDUKAN SESEORANG, SEHINGGA INGIN HATI MENJEMPUTNYA
DARI ALAM MIMPI DAN MEMELUKNYA DALAM
ALAM NYATA. SEMOGA KAMU MEMIMPIKAN ORANG SEPERTI ITU.

3. BERMIMPILAH TENTANG APA YANG INGIN KAMU IMPIKAN,
PERGILAH KE TEMPAT-TEMPAT KAMU INGIN PERGI, JADILAH
SEPERTI YANG KAMU INGINKAN, KARENA
KAMU HANYA MEMILIKI SATU KEHIDUPAN DAN SATU KESEMPATAN
UNTUK MELAKUKAN HAL-HAL YANG INGIN KAMU LAKUKAN.

4. SEMOGA KAMU MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN YANG CUKUP
UNTUK MEMBUATMU BAIK HATI, COBAAN YANG CUKUP UNTUK
MEMBUATMU KUAT, KESEDIHAN YANG CUKUP
UNTUK MEMBUATMU MANUSIAWI, PENGHARAPAN YANG CUKUP
UNTUK MEMBUATMU BAHAGIA DAN UANG YANG CUKUP UNTUK
MEMBELI HADIAH-HADIAH.

5. KETIKA SATU PINTU KEBAHAGIAAN TERTUTUP, PINTU YANG
LAIN DIBUKAKAN. TETAPI ACAPKALI KITA TERPAKU TERLALU
LAMA PADA PINTU YANG TERTUTUP SEHINGGA TIDAK MELIHAT
PINTU LAIN YANG DIBUKAKAN BAGI KITA.

6. SAHABAT TERBAIK ADALAH DIA YANG DAPAT DUDUK
BERAYUN-AYUN DI BERANDA BERSAMAMU, TANPA MENGUCAPKAN
SEPATAH KATAPUN, DAN KEMUDIAN
KAMU MENINGGALKANNYA DENGAN PERASAAN TELAH
BERCAKAP-CAKAP LAMA DENGANNYA.

7. SUNGGUH BENAR BAHWA KITA TIDAK TAHU APA YANG TELAH
KITA MILIKI SAMPAI KITA KEHILANGANNYA, TETAPI SUNGGUH
BENAR PULA BAHWA KITA TIDAK TAHU APA YANG BELUM PERNAH
KITA MILIKI SAMPAI KITA
MENDAPATKANNYA.

8. PANDANGLAH SEGALA SESUATU DARI KACAMATA ORANG LAIN.
APABILA HAL ITU MENYAKITKAN HATIMU, SANGAT MUNGKIN HAL
ITU MENYAKITKAN HATI ORANG ITU PULA.

9. KATA-KATA YANG DIUCAPKAN SEMBARANGAN DAPAT MENYULUT
PERSELISIHAN. KATA-KATA YANG KEJAM DAPAT MENGHANCURKAN
SUATU KEHIDUPAN. KATA-KATA YANG DIUCAPKAN PADA
TEMPATNYA DAPAT MEREDAKAN KETEGANGAN. KATA-KATA YANG
PENUH CINTA DAPAT MENYEMBUHKAN DAN MEMBERKAHI.

10. AWAL DARI CINTA ADALAH MEMBIARKAN ORANG YANG KITA
CINTAI MENJADI DIRINYA SENDIRI, DAN TIDAK MERUBAHNYA
MENJADI GAMBARAN YANG KITA INGINKAN. JIKA TIDAK, KITA
HANYA MENCINTAI PANTULAN DIRI SENDIRI YANG KITA
TEMUKAN DI DALAM DIA.

11. ORANG-ORANG YANG PALING BERBAHAGIA TIDAK SELALU
MEMILIKI HAL-HAL TERBAIK, MEREKA HANYA BERUSAHA
MENJADIKAN YANG TERBAIK DARI SETIAP HAL YANG HADIR
DALAM HIDUPNYA.

12. MUNGKIN TUHAN MENGINGINKAN KITA BERTEMU DENGAN
BEBERAPA ORANG YANG SALAH SEBELUM BERTEMU DENGAN ORANG
YANG TEPAT, KITA HARUS MENGERTI BAGAIMANA BERTERIMA
KASIH ATAS KARUNIA ITU.

13. HANYA DIPERLUKAN WAKTU SEMENIT UNTUK MENAKSIR
SESEORANG, SEJAM UNTUK MENYUKAI SESEORANG DAN SEHARI
UNTUK MENCINTAI SESEORANG TETAPI DIPERLUKAN WAKTU
SEUMUR HIDUP UNTUK MELUPAKAN SESEORANG.

14. KEBAHAGIAAN TERSEDIA BAGI MEREKA YANG MENANGIS,
MEREKA YANG DISAKITI HATINYA, MEREKA YANG MENCARI DAN
MEREKA YANG MENCOBA. KARENA HANYA MEREKA ITULAH YANG
MENGHARGAI PENTINGNYA ORANG-ORANG YANG
PERNAH HADIR DALAM HIDUP MEREKA.

15. CINTA ADALAH JIKA KAMU KEHILANGAN RASA, GAIRAH,
ROMANTIKA DAN MASIH TETAP PEDULI PADANYA.

16. HAL YANG MENYEDIHKAN DALAM HIDUP ADALAH KETIKA
KAMU BERTEMU SESEORANG YANG SANGAT BERARTI BAGIMU DAN
MENDAPATI PADA AKHIRNYA BAHWA TIDAK DEMIKIAN ADANYA
DAN KAMU HARUS MELEPASKANNYA.

17. CINTA DIMULAI DENGAN SEBUAH SENYUMAN, BERTUMBUH
DENGAN SEBUAH CIUMAN DAN BERAKHIR DENGAN TETESAN AIR
MATA.

18. CINTA DATANG KEPADA MEREKA YANG MASIH BERHARAP
SEKALIPUN PERNAH DIKECEWAKAN, KEPADA MEREKA YANG MASIH
PERCAYA SEKALIPUN PERNAH DIKHIANATI, KEPADA MEREKA
YANG MASIH MENCINTAI SEKALIPUN PERNAH
DISAKITI HATINYA.

19. SUNGGUH MENYAKITKAN MENCINTAI SESEORANG YANG TIDAK
MENCINTAIMU, TETAPI YANG LEBIH MENYAKITKAN ADALAH
MENCINTAI SESEORANG DAN TIDAK PERNAH MEMILIKI
KEBERANIAN UNTUK MENGUTARAKAN CINTAMU
KEPADANYA.

20. MASA DEPAN YANG CERAH SELALU TERGANTUNG KEPADA
MASA LALU YANG DILUPAKAN, KAMU TIDAK DAPAT HIDUP TERUS
DENGAN BAIK JIKA KAMU TIDAK MELUPAKAN KEGAGALAN DAN
SAKIT HATI DI MASA LALU.

21. JANGAN PERNAH MENGUCAPKAN SELAMAT TINGGAL JIKA
KAMU MASIH MAU MENCOBA, JANGAN PERNAH MENYERAH JIKA
KAMU MASIH MERASA SANGGUP, JANGAN PERNAH MENGATAKAN
KAMU TIDAK MENCINTAINYA LAGI JIKA
KAMU MASIH TIDAK DAPAT MELUPAKANNYA.

22. MEMBERIKAN SELURUH CINTAMU KEPADA SESEORANG
BUKANLAH JAMINAN DIA AKAN MEMBALAS CINTAMU ! JANGAN
MENGHARAPKAN BALASAN CINTA, TUNGGULAH
SAMPAI CINTA BERKEMBANG DI HATINYA, TETAPI JIKA TIDAK,
BERBAHAGIALAH KARENA CINTA TUMBUH DIHATIMU.

23. ADA HAL-HAL YANG SANGAT INGIN KAMU DENGAR TETAPI
TIDAK AKAN PERNAH KAMU DENGAR DARI ORANG YANG KAMU
HARAPKAN UNTUK MENGATAKANNYA. NAMUN DEMIKIAN JANGANLAH
MENULIKAN TELINGA UNTUK MENDENGAR DARI
ORANG YANG MENGATAKANNYA DENGAN SEPENUH HATI.

24. WAKTU KAMU LAHIR, KAMU MENANGIS DAN ORANG-ORANG DI
SEKELILINGMU TERSENYUM - JALANILAH HIDUPMU SEHINGGA
PADA WAKTU KAMU MENINGGAL, KAMU TERSENYUM DAN
ORANG-ORANG DI SEKELILINGMU MENANGIS.








SPIRITUAL TEACHING

Agar Guru Semakin Mencintai Pekerjaan Dan Anak Didiknya

TARBIYAH (MENDIDIK)
• ISHLAHU SYAI’IN (MEMPERBAIKI)
• WA HIFDHUHU (MEMPERTAHANKAN)
• WA RI’AYATUHU (TERUS MENGEMBANGKAN/INOVASI)

أفضل الطرق الى الجنة طريقة التعليم و التعلم

الإ ستقا مة خير من الف كرا مة

الطريقة أهم من الما دة,والأستاذ أهم من الطريقة
و روح الأ ستاذ أهم من كل شئ (الحكمة)

SEMANGAT GURU merupakan hal yang paling penting dibanding materi pelajaran dan metode penyampaian


sesungguhnya misi mulia yang dibawa oleh seorang guru dengan sendirinya akan mengantarkan pada derajat yang mulia
sekalipun seluruh isi dunia tidak memuliakan mereka


CINTAI PEKERJAAN
SAYANGI ANAK DIDIK
“MAN YAZRA’ WA HUWA YAHSHUD”

JIKA INGIN ORANG LAIN BERBUAT BAIK, DENGAN SNDIRINYA KITA HARUS TERLEBIH DULU BERBUAT BAIK

guru yang selalu menanamkan keburukan-
seperti perilaku kasar, pemarah, kaku, mudah tersinggung-
akan mejadi sosok yang kurang simpatik di mata siswa

GURU SEPERTI INI HANYA “DITAKUTI” ,
BUKAN “DIHORMATI” DAN “DISEGANI”

SEBALIKNYA…

GURU YANG SELALU MEMPERLIHATKAN KASIH SAYANG PADA SISWANYA, BAIK DI SEKOLAH MAUPUN DI LUAR
AKAN DITANGKAP SISWA SEBAGAI SOSOK YANG
BERKHARISMA BERWIBAWA

Guru yang bersifat lembut pada siswanya, akan mendapat respon balik dari siswa berupa:
• KEPATUHAN
• MOTIVASI BELAJAR
• KECINTAAN TERHADAP TUGAS
• PENGHORMATAN
• RASA INGIN SELALU MENGHARGAI GURU


Sikap ini menimbulkan DAMPAK POSITIF terhadap perkembangan siswa
• SISWA MENGANGGAP BELAJAR BUKAN LAGI SEBAGAI KEWAJIBAN,
TAPI SEBAGAI KEBUTUHAN DAN KEASYIKAN
• GURU AKAN MERASAKAN BAHWA MENDIDIK SISWA MERUPAKAN SESUATU YANG RINGAN DAN MENYENANGKAN

BANYAK GURU YANG BERUSAHA SEKUAT TENAGA UNTUK BERSABAR, MENCOBA MEMAHAMI DAN MENDEKATI SISWA

BUTUH KIAT DAN SENI TERSENDIRI SUPAYA SINYAL CINTA GURU BISA TERTANGKAP OLEH SISWA

TELADAN MULIA

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
(QS. Ali Imron 159)

PARA GURU BISA MENIRU DAN MENERAPKAN METODE DAKWAH RASULULLAH DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR SEHARI-HARI DI SEKOLAH SESUAI TUNTUTAN SITUASI DAN KONDISI MASING-MASING.

Gelar yang disandang GURU bukanlah Jaminan Keberhasilan
guru harus senantiasa melibatkan ALLAH
dalam menjalani profesinya

SIKAP GURU YANG TERLALU YAKIN DENGAN KEMAMPUANNYA, HINGGA MENGABAIKAN PERAN ALLAH
AKAN MEMBUATNYA
KEHILANGAN KEKUATAN JIWA TATKALA MENJUMPAI MASALAH
(MUDAH PUTUS ASA)

MODAL UTAMA CINTA ADALAH
KELEMBUTAN SIKAP
kelembutan akan membuahkan cinta

dan cinta akan semakin merekatkan hubungan guru dan siswanya


WASPADAI EMOSI
Guru mesti pandai mengendalikan emosinya. Jangan sampai persoalan internal dibawa-bawa saat ia berada di sekolah
Contoh:
Guru mengambil sikap badan berjongkok bila ingin berbcara dengan siswa, wajah sejajar dengan siswa
Memudahkan guru mengendalikan emosi dibandingkan dengan berdiri

MENJADI SOSOK PEMAAF
Klaim-Klaim Negatif Akan Menyebabkan Hubungan Antara Guru Dan Murid Menjadi Tersekat, Tidak Netral Bahkan Penuh Dengan Prakonsepsi Negatif

“NALURI HEWANIAH” ANAK?
Pelanggaran yang dilakukan siswa disebabkan kurangnya rasa memiliki terhadap peraturan
• Tumbuhkan budaya musyawarah dan dialog. Libatkan guru dan siswa dalam membuat peraturan
• Secara lahiriah, memang, sebuah peraturan bila sudah termasuk pelanggaran harus dihukum. Tapi jika motifnya diketahui, maka akan ada pelanggaran peraturan yang bebas dari sanksi

Empati
Adalah sikap membayangkan diri sendiri dengan dasar berbaik sangka (husnudh dhan) tanpa kecurigaan dan prasangka jelek

Tiada ruang bagi guru untuk berburuk sangka sebelum semuanya menjadi jelas masalahnya

Kebanggaan tertinggi seorang guru adalah ketika melihat anak didiknya memiliki prestasi dan diperhitungkan ditengah masyarakat

Guru harus senantiasa bertawakkal
Guru tidak akan mudah berputus asa bila ia menyadari keterbatasannya. Artinya, setinggi apapun keahlian mengajar yang ia miliki, hasil akhirnya tetap ada di tangan Allah

Sabar dan syukur
menjadi tameng
dari sikap putus asa dan sombong
“man proposes, but God disposes”

Hati guru perlu disiapkan agar didalamnya tumbuh cinta

Murid “Biang keladi”
Selalu memancing emosi guru,

Atasilah dengan tanamkan dalam hati kata-kata
“saya merasa, “insyaallah” telah dilahirkan dan dihadirkan untuk mereka”

Hampir seluruh komunikasi yang terjalin antara guru dengan siswa dilakukannya jika ada kaitannya dengan profesi
Lama-kelamaan akan terbangun image di mata anak bahwa guru tak lebih sebagai sosok “polisi”
(mengingatkan bila salah, mendiamkan bila berbuat baik, tanpa pernah memuji)



ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK
• Perbanyaklah bermain peran dalam setiap interaksi antara anda dengan siswa
• Curahkan perhatian, berilah hadiah
• Bantu kesulitan mereka
dengan memberikan “kunci” untuk menyelesaikan masalah, bukan membukakan pintu…
• Obrallah pujian (dg ikhlas, sesering mungkin)
Pada dasarnya setiap anak suka dipuji, kebutuhan akan pujian lebih besar dibanding orang dewasa
• Tanggapi obrolan “tak berguna” mereka
bila tak ditanggapi, akan memangkas potensi verbal mereka
• Jangan lupa, sentuhan fisik
merupakan salah satu sarana guru ungkapkan kasih sayang pada anak didik

Bagi siswa usia remaja, kenalkan nilai-nilai islam dalam pergaulan
• Hadirkan mereka dalam doa
Shalat malam (qiyamul lail) adalah shalat yang paling utama setelah shalat fardhu

Libatkan murid dalam berdoa sebelum pelajaran. Mengenalkan terhadap Allah swt sejak dini, belajar bersyukur

Doa juga dapat berfungsi sebagai ungkapan rasa cinta guru pada murid
Contoh (perdengarkan saat doa bersama)
“Ya Allah, kami bersyukur telah engkau berikan anak-anak yang saleh, manis dan lincah. Yudha, ahmad, fatma,,, (sebutkan nama-nama mereka). kami mencintai mereka Ya Allah. Berikanlah mereka keberhasilan dalam hidup ini”

Contoh (perdengarkan saat doa bersama)
“Ya Allah, kami bersyukur telah engkau berikan anak-anak yang saleh, manis dan lincah. Yudha, ahmad, fatma,,, (sebutkan nama-nama mereka). kami mencintai mereka Ya Allah. Berikanlah mereka keberhasilan dalam hidup ini”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ
إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
(HR. Muslim 3084)

Demikianlah bentuk kemuliaan dan pahala yang dapat diperoleh seorang guru. Ibarat berbisnis, guru dapat 3 keuntungan sekaligus
• Pahala sedekah jariyah (tenaga dan waktu yang dikorbankan guru)
• Pahala ilmu yang bermanfaat
• Pahala mendidik anak menjadi shaleh

Guru adalah orang paling “kaya” di dunia
Namun kekayaan yang immeterial, bukan berupa materi. Yaitu kekayaan berupa bekal menjalani kehidupan akhirat kelak

Kekayaan immaterial hanya diminati orang yang di dalam hatinya terdapat “IMAN”


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu
(QS. Muhammad 7)

Jika pekerjaan mendidik kita tempatkan dalam rangka “menolong (agama) Allah, dengan sendirinya Allah akan menolong kita dari kesulitan yang kita hadapi (himpitan ekonomi,dll)”

Semangat totalitas sangat dibutuhkan dalam menghadapi pekerjaan-pekerjaan besar
Ya ayyuhan nas, ainal mafarr?, al bahru min wara’ikum, wal aduwwu amamakum, wa laisa lakum, wallahi, illa ash-shidqu wash shabru”
(pidato Thariq Bin Ziyad di hadapa pasukannya)


MILIKI TOTALITAS!!!

Jika suatu waktu harus memilih, mana yang harus dibela antara tugas mengajar dengan tugas rumah tangga?

Keduanya merupakan hal yang sama pentingnya, namun bukan berarti keduanya menjadi nomor satu pada saat yang bersamaan bukan?


MILIKI SKALA PRIORITAS

Jika seseorang menjadi guru, dan pada saat yang bersamaan memiliki keluarga dengan anak kecil, maka tidak perlu ngotot dengan urusan rumah. Jika badan lelah beristirahatlah

tinggalkan sejenak pikiran tentang halaman, ruang tamu, halaman atau meja makan


MILIKI FIGUR NYATA UNTUK BERCERMIN

• Carilah sesosok guru teladan, ambil pengalaman berharga dari mereka
contoh : Kyai Hasyim Asy’ari
Kyai Ahmad dahlan
Bu Mus, laskar pelangi
Mr. Kobayashi, toto chan
Pelajaran yang dapat diambil
Bila guru mendidik murid dengan tulus, maka akan dibalas dengan ketulusan juga oleh murid

Bekali diri dengan segudang ketrampilan
• tidak ada jurus paten dalam menghadapi anak, beda anak, beda penanganannya
• Guru tidak boleh berhenti belajar, banyak madsalah baru muncul melebihi ilmu yang dimiliki sat ini
• Dengan mengajar, ilmu seorang guru tidak akan berkurang


INDIKATOR CINTA GURU TERHADAP PROFESI DAN ANAK DIDIK
• Pasokan energi yang berlimpah
• Kesediaan berkorban
• Selalu ingin memberi yang terbaik


PASOKAN ENERGI YANG BERLIMPAH
Guna menampik segala hal yang bisa menghambat.
Hambatan dapat berupa perasaan kurangnya gaji, keluarga yang tidak setuju atas keputusan menjadi guru, kenakalan murid, dsb.


KESEDIAAN BERKORBAN
• Kreatifitas guru muncul ketika komitmen, konsentrasi dan dedikasi dicurahkan sepenuhnya bagi keberhasilan proses pendidikan dankeberhasilan anak didiknya.
dari sini, tampaklah perbedaan antara guru yang menjalani profesinya dengan berlandaskan cinta atau semata-mata terpaksa.


SELALU INGIN MEMBERI YANG TERBAIK
• Diniatkan atau tidak, seorang guru memberi sesuatu kepada orang lain yang belum tentu membalas dengan setimpal kepadanya
• Guru mendidik anak orang lain, yang ia bimbing dan ia besarkan adalah aset orang lain. Jika pendidikan guru bagi anak berhasil, yang pertama menikmati kelak adalah orang tua, bukan gurunya.

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ


"Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak"

(QS. Al Muddatsir 6)


وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

"Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan"
(QS. Al Qashash 77)


Ingat kisah lelaki yang mengaku pada nabi telah berhubungan dengan istrinya di siang hari bulan ramadhan

Sahabat tidak takut mengakui kesalahannya pada nabi
Begitu pula seharusnya, seorang siswa mempercayai sepenuh hati terhadap gurunya


MENGAPA BISA DEMIKIAN?
Pengauan jujur, tidak takut dimarahi, merupakan wujud RASA AMAN
sahabat ketika berada di dekat nabi
Rasa aman lahir karena AURA CINTA yang ditebarkan nabi


MENJAWAB PERTANYAAN ANAK
• Tidak ada alasan untuk tidak menjawab pertanyaan anak
• Segala perilaku dan kata anak-anak merupakan bentuk rasa penasaran dan keingintahuannya (curiousity) yang sangat besar




SELAMAT
MENJADI GURU YANG SENANTIASA MENCINTAI
PEKERJAAN
DAN
ANAK DIDIK

Minggu, 14 Maret 2010

Comment


Mau seperti ini?
Click aja disini---> Kumpulan Blog Tutorials